Sabtu, 07 Januari 2012

BENCANA BANJIR DI AKHIR TAHUN 2011



Memasuki musim hujan akhir tahun 2011 perhatian public terwacanakan pada masalah longsor,banjir,dan dampak lainnya. Siklus banjir besar lima tahunan diperkirakan terjadi pada awal tahun 2012.
Pemecahan masalah banjir sering kali mengedepankan pendekatan fisik. Banjir dipahami  lebih sebagai masalah sector dan karenanya dipecahkan melalui dominasi fisik prasarana.
Dominasi pendekatan fisik dan parsial yang begitu kental tercirikan dari banyak investasi pemerintah dalam membangun tanggul tanggul sungai dimana mana. Pelurusan sungai dengan membangun tanggul tanggul sungai dan tebing beton sumber sumber air lainnya di temui di banyak tempat. Bisa jadi istilah “penanggulangan” dalam mengatasi masalah banjir merefleksikan dominasi pendekatan tersebut. Kini,banjir menjadi sebuah kata yang telah mewabah dan kian menakutkan.
Pembuatan tanggul sungai yang  tak selektif dan parsial justru kontraproduktif. Genangan air di suatu wilayah yang berkurang boleh jadi membuat banjir di daerah lain. Dengan demikianpenanggulangan yang dilakukan tidak selektif dan komprehensif cenderung memindahkan masalah dan menambah biaya pemeliharaan.
Potret banjir yang kejadiannya kian intensif dan ekstensif, disadari atau tidak,merupakan respons balik alam atas perbuatan tangan manusia. Boleh jadi bencana longsor,banjir dan kekeringan dimana mana. Berikut dampak ikutannya merupakan akibat dari investasi pembangunan yang sporadic daan parsial tanpa arah yang jelas. Motif kepentingan elite ad hoc kedaerahan disinyalir turut mempercepat laju degradasi lingkungan.
Ketenangan hidup dan kohesi sosial yang telah lama berkembang juga terusik keberadaannya. Melemahnya akses masyarakat pada pangan dan nutrisi,air bersih,dan produktif, benar benar telah mengancam harkat dan martabat bangsa Indonesia.

Cara mengatasi: perlu pendekatan DAS
Daerah Aliran Sungai(DAS) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak anak sungainya, yang berfungsi untuk menampung,menyimpan,dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan. Secara kontekstual,definisi ini didukung oleh kenyataan bahwa hubungan hulu-hilir dan daratan-lautan sebagai cermin ekosistem. Karena itu satu kesatuan pengelolaan adalah keniscayaan.
Setidaknya dua ranah pemecahan perlu dikedepankan. Pertama,perlu mengembangkan kolaborasi sinergis antarinstansi dan pihak terkait. Baik seecara horizontal,maupun vertical. Prakondisi yang harus dibangun adalah tapak bersama sebagai refleksi pengakuan bahwa persoalan kompleks dan saling mengait diatas tak akan pernah terpecah dengan baik melalui intervensi sporadic dan sektoral, yang cenderung menafikan kerangka pendekatan DAS secara utuh.

Sumber : Kompas,edisi Kamis 29 Desember 2011, halaman 7

Jumat, 06 Januari 2012

Jangan Menikah Hanya Karena Target Usia


KOMPAS.com - Usia umumnya merupakan salah satu pertimbangan seseorang saat menikah. Usia berpengaruh pada kesiapan mental seseorang untuk menjalankan bahtera pernikahan. Meskipun usia tidak selalu menjadi penentu tingkat kedewasaan seseorang, paling tidak usia bisa jadi tolok ukur untuk kesiapan menikah.

Lantas usia berapa yang pas untuk menikah?
Pada tahun 2009 yang lalu, US Census Bereau melaporkan bahwa di Amerika perempuan menikah pada usia 27 tahun dan pria pada usia 29 tahun. Banyak orang yang selalu memiliki target untuk menikah di usia yang cenderung muda, dan perempuan mulai merasa ketakutan ketika belum juga menikah di usia yang sudah lebih dari 25 tahun. "Ketika berumur 27 tahun, teman-teman saya sudah mulai bertunangan dan menikah. Tak jarang hal ini disebut tindakan yang dewasa. Jadi apakah saya belum dewasa ketika saya belum menikah di usia 27 tahun?" ungkap Rachel Jacoby, editor majalah dalam artikelnya di Huffington Post yang berjudul The 27 Club: Why Is 27 The 'Age' To Get Married?.

Perempuan lalu menjadi ketakutan ketika mendekati masa menjadi "perawan tua" (dalam anggapan orang-orang di sekitarnya). Tak jarang pada usia 27, yang dianggap matang untuk menikah, secara tak sadar perempuan memasang target yang harus dipenuhi untuk menikah. Hal ini malah berakibat pada sikap kekanakan dan mencari pria yang bersedia untuk menikahinya saat itu juga.
"Tampaknya sangat gila untuk mengakhiri sebuah hubungan serius hanya karena kekasih kita belum ingin terikat lebih lanjut dalam pertunangan atau pernikahan. Padahal mungkin saja pasangan kita itu sedang mempersiapkan modal pernikahan atau membeli rumah terlebih dahulu untuk membahagiakan Anda," tambah Jacoby. Ia menambahkan, tidak ada yang menyangkal bahwa tekanan teman-teman yang sudah menikah membuat para perempuan menjadi lebih terburu-buru untuk mengakhiri masa lajangnya.
Di masa lalu, mungkin banyak orang yang menikah pada usia ini atau bahkan lebih muda. Demi menikah pada waktunya, tak jarang orang rela dijodohkan. Namun apakah Anda sendiri menginginkan hidup yang demikian? Hanya karena ikut-ikutan teman, resah dengan desakan dari lingkungan di sekitar Anda? Sebaiknya menikahlah jika Anda sudah benar-benar siap untuk menikah, dan bukan karena hal lainnya. Usia tidak akan berulang, dan pastinya Anda tak menginginkan pernikahan Anda dilakukan dengan terpaksa, tidak bahagia, dan akhirnya berujung pada penyesalan.
"Itulah sebabnya terburu-buru menikah adalah hal yang konyol bagi saya. Perjalanan kita masih panjang, dan masih mungkin untuk berkembang dalam jangka waktu yang cukup lama. Jadi tidak ada alasan untuk terburu-buru menikah hanya untuk disebut dewasa, kan? Tak ada yang lebih indah daripada menikah dengan penuh kesiapan dari kedua pasangan," tukasnya.
Jadi, tak usah terlalu terbebani pada target usia untuk menikah, karena dorongan dari keluarga, atau menikah hanya karena ingin mendapatkan status. Pernikahan adalah hubungan antara dua orang yang akan selalu berkembang dari waktu ke waktu, sehingga tak ada gunanya untuk memaksakan menikah bila memang belum yakin dengan keputusan Anda. Menikahlah karena Anda sudah siap dalam segala halnya.


Sumber: Huffington Post

Minggu, 01 Januari 2012

GLOBAL WARMING



Dampak global warming: Indonesia mulai merasakan dampak pemanasan global (global warming) yang dibuktikan dari berbagai perubahan iklim maupun bencana alam yang terjadi.
Dampak pemanasan global itu di antaranya, terjadinya perubahan musim di mana musim kemarau menjadi lebih panjang sehingga menyebabkan gagal panen, krisis air bersih dan kebakaran hutan.
Dampak lainnya yaitu hilangnya berbagai jenis flora dan fauna khususnya di Indonesia yang memiliki aneka ragam jenis seperti pemutihan karang seluas 30 persen atau sebanyak 90-95 persen karang mati di Kepulauan Seribu akibat naiknya suhu air laut.
Mencairnya es kutub utara dan kutub selatan yang akan menyebabkan kepunahan habitat di sana merupakan bukti dari pemanasan global. Pemanasan global disebabkan kegiatan manusia yang mengasilkan emisi gas rumah kaca dari industri, kendaraan bermotor, pembangkit listrik bahkan menggunaan listrik berlebihan.
Perubahan iklim ini akibat dari pemanasan global, telah menjadi isu yang mendunia terkait dengan iklim yang tidak menentu karena pemanasan global. Dampaknya semakin nyata dan semakin akut dan imbasnya juga mengenai negara kita negara yang terkenal dengan kawasan agraris penghasil beras terbaik di dunia. Rentetan bencana seperti cuaca yang ekstrim, angin kencang, musim tak menentu, gagal panen, penyakit, bertubi-tubi menghantam setiap sisi belahan bumi melalui berbagai model yang disinyalir kuat disebabkan oleh reaksi pemanasan global. Saat ini indonesia pun terkena dampak dari pemanasan gelobal tersebut dengan banyaknya petani yang mengalami kerugian karena gagal panen belum lagi kelangkaan pangan akibat stok pangan semakin sulit dan langka.
Karena itu yang harus dilakukan untuk mengatasi ancaman pemanasan global adalah melakukan penghematan energi listrik, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghentikan penebangan dan pembakaran hutan.

·         Dampak di lingkungan sekitar : suhu udara yang sangat panas dan perubahan iklim yang tidak menentu. Efek yang dirasakan di sekitar lingkungan masyarakat pedesaan di desa saya yaitu kacaunya sistim pola tanam. Sehingga petani banyak yang mengalami kerugian karena sawahnya tidak menghasilkan panen.


Komunikasi Massa di Era Globalisasi dan sebelum globalisasi



Perubahan komunikasi masa sebelum era globalisasi dan setelah globalisasi merupakan perubahan yang  terjadi karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK),misalnya dahulu berkomunikasi hanya sebatas radio dan Koran,karena pada zaman dahulu terbatas medianya,sekarang setelah globalisasi penggunaan jejaring sosial melalui media internet sangat berfariasi,misalnya dengan menggunakan twitter,facebook,email,dan yang terbaru skipe.
teknologi pencetakan surat kabar pun juga sudah menggunakan teleprinter, redaksinya hanya di pusat,sedangkan pencetakannya dapat di desentralisasikan ke berbagai daerah yang di kehendaki untuk menyebar di seluruh wilayah Indonesia,sehingga menjamin kecepatan penyajian.televisi juga sangat mudah untuk melakukan siaran langsung,semakin banyaknya chanel stasiun televisi dengan karakteristik yang berbeda beda. sehingga kejadian kejadian penting dapat diketahui secara langsung oleh seluruh masyarakat Indonesia khususnya. Pola pikir masyarakatnya juga semakin cerdas dan juga kritis.sehingga bisa menyaring informasi yang diperlukan ataupun tidak.yang benar maupun yang salah.
Penyiaran sebagai bentuk peradaban global, memasuki tahap penyiaran modern pada tahun 1980. Satu tahun sebelumnya, sudah mulai dikenalkan jurnalisme penyaiaran. Radio dan televisi tidak saja menjadi penyaji lagu dan hiburan drama, tetapi sudah merambah pada dunia pemberitaan seperti Buletin Pagi dan Sore.
Perkembangan komunikasi massa dengan media elektronik ini, tidak saja meningkat dalam kualitas produk siarannya, tapi juga meningkat populasinya. Jika pada masa awal tahun 1940-an pesawat tersebut hanya dimiliki oleh perusahaan di negara maju seperti USA dan pemerintah bagi negara-negara yang baru lahir, maka pada perkembangan berikutnya, menjadi milik siapa saja. Artinya, selain pemerintah juga swasta mulai melirik radio sebagai medan usaha.
Perkembangan ini juga terjadi pada media cetak, seperti surat kabar dan majalah dengan berbagai tipenya. Selain berkembang dari segi kualitas, juga dari segi kuantitasnya. Semua media yang menyandarkan hidupnya pada jasa periklanan ini, masing-masing bersaing untuk menjadi yang paling dimiliki dan diperlukan oleh pendengar maupun pembacanya.
Perkembangan-perkembangan dari media ini, berarti semakin memperkaya arus informasi bagi masyarakat, masyarakat sasaran tidak saja menerima informasi yang harus mereka ketahui, tetapi juga informasi yang tidak harus diketahui bahkan yang harus dihindari pun mereka bisa dapatkan. Sementara itu, percepatan komunikasi sangat dibantu oleh perkembangan di bidang telekomunikasi, yaitu dengan dikembangkannya telephone mobile (Hand Phone).
Pada tahun 1983, mulai dipergunakan internet yang kemudian meluas penggunaannya pada tahun 1990, semakin menyempurnakan globalisasi. Perdaban yang lahir dari proses ini adalah perang website, terbentuknya komunitas maya, chating room, kelompok diskusi dan akses informasi serta pengetahuan tanpa batas.
Lebih dari itu, internet ini dijadikan sebagai pilihan dari media-media terdahulu baik yang cetak maupun elektronika untuk lebih memperluas jangkauan dan siarannya. Sehingga muncul kompas online, Waspada online, Metro TV online, Liputan 6 SCTV online, E-Journal, E-Book, E-Magazine dan sejenisnya.