Senin, 05 Maret 2012

resume Memahami Sosiologi Pendidikan


Memahami Sosiologi Pendidikan

-          Kajian Sosiologi Pendidikan
Kajian sosiologi dan sosiologi pendidikan di Indonesia telah lama dikenalkan melalui mata kuliah di perguruan tinggi, maksudnya agar mahasiswa memiliki visi dan misi serta kemampuan melihat proses pendidikan dari sisi sosiologis. Pendidikan sebagai suatu lembaga dan merupakan fenomena sosial, yang didalamnya terjadi interaksi antar individu,antar kelompok,antar individu dengan kelompok yang erat kaitannya dengan struktur sosial yang menjadi kajian utama dalam sosiologi.
            Sosiologi merupakan bidang kajian yang memiliki implikasi penting terhadap tumbuh kembangnya manusia dalam masyarakat, termasuk tumbuh kembangnya mereka dalam pendidikan. Sosiologi pendidikan dapat membantu member bahan yang berharga dalam rangka melihat proses pendidikan dengan berbagai masalah dan implikasi yang ditimbulkan. Sosiologi pendidikan dapat membantu memahami perencanaan,proses implementasi, dan implikasi penerapan program maupun kebijakan pendidikan tertentu. Sosiologi pendidikan merupakan kajian bagaimana institusi dan kekuatan sosial mempengaruhi proses dan outcome pendidikan dan sebaliknya.
            Masyarakat berbasis ilmu pengetahuan memiliki tradisi yang berbeda dengan masyarakat sebelumnya. Cara mengembangkan tindakan,memiliki identitas,mengajukan persoalan dan jawaban,selalu dikaitkan dengan tradisi keilmuan. Dunia pendidikan harus memahami, lalu mentransformasikan ke dalam proses pembelajaran bagaimana masyarakat mengembangkan tindakan,memilih identitas,mengajukan persoalan dan solusi.
            Masyarakat kapitalisme tingkat lanjut memang telah memicu tumbuhnya masyarakat ekonomi menengah,dengan tingkat kesejahteraan yang begitu tinggi. Namun,seperti yang dikatakan Schumpeter (dikutip Hargreaves, 2004), pengetahuan masyarakat ekonomi juga memiliki kekuatan destruktif, terutama ketika mengedepankan kepentingan pribadi yang dampaknya kemudian mudah memunculkan pembelahan masyarakat secara tajam. Masyarakat  kemudian menjadi terfragmentasi dalam pembelahan yang tajam, baik pembelahan vertical maupun horizontal yang acapkali susah dipertemukan apalagi diintegrasikan. Menghadapi perkembangan seperti itu,pendidikan sebagai institusi produksi dan reproduksi pengetahuan,menjadi semakin membutuhkan perangkat analisis dalam memahami perubahan perilaku masyarakat.
            Durkheim melihat pentingnya prinsip saling bergantung antaranggota masyarakat yang beraneka raga mini dan sifat sosial mengisyaratkan perlunya setiap orang menempatkan dirinya untuk sesuatu yang lebih tinggi sebagai komitmen pada keseluruhan baik sebagai individu maupun kelompok (Parelius and Parelius, 1978). Setiap anggota masyarakat memberikan sejumlah kontribusi bagi anggota lainnya dan bersamaan dengan itu dia memperoleh yang dibutuhkan dari orang lain. Dengan demikian stabilitas sosial akan dapat dipertahankan.

-          Perspektif Sosiologi Pendidikan
Pada perspektif sosiologi pendidikan dapat dilihat perbedaan sosiologi pendidikan yang berorientasi pada dimensi kajian makro dengan yang berorientasi pada kajian mikro. Untuk unit analisis dalam sosiologi pendidikan umumnya sebagian besar dari ranah obyektif, yaitu dunia atau realitas yang berada diluar individu sedang yang sebagian lain tertarik pada unit analisis yang berasal dari ranah individu. Yang mengembangkan kajiannya dari perpektif subyektif, yaitu dunia kesadaran.
Perspektif kajian sosiologi pendidikan juga dipisahkan antara mereka yang memiliki penekanan pada ranah obyektif dengan mereka yang memiliki pendekatan ranah obyektif, melihat data dengan pandangan bebas nilai. Penjelasan dilakukan dengan melihat data di luar individu atau mencari penjelasan di dunia objektif.
Kajian sosiologi pendidikan perspektif mikro, mencari pemahaman masalah pendidikan ke dunia makna. Kemajuan dan kemunduran dalam pendidikan,oleh teori teori yang menekankan pada ranah mikro seperti perspektif konstruksional, interaksionisme simbolik,fenomenologi, dan sejumlah pemikir yang mengikuti mahzab Frankfurt, feminism dan juga posmodernisme menelusuri realitas melalui ranah mikro, bukan dari wilayah makro sistemik, atau struktur sosial. Dalam hal ini justru dilakukan dengan cara memahami model pengetahuan,pengalaman,persepsi dan cara actor memahami permasalahan pendidikan (Zainudin M., 2010).
Permasalahan perluasan kesempatan belajar akan cocok dimengerti dengan pendekatan sosiologi makro dengan mengamati keterkaitan struktur sosial dan kebutuhan akan pendidikan formal. Dewasa ini,peranan pendidikan banyak dikaitkan dengan keseluruhan usaha mengembangkan sumber daya manusia. Pelayanan umum untuk maksud serupa,yaitu peningkatan jumlah dan mutu sumber daya manusia menjawab perubahan,tantangan dan permasalahan yang ada.
Pendidikan formal di Negara kita dengan unit utama pelaksanannya sistem persekolahan,mengemban tugas yang semakin kompleks bagi anak untuk tingkatan dosen dewasa ini telah bersiap memasuki fase universal. Sasaran populasi garapannya semakin luas,terutama oleh desakan dan gerakan pendidikan bagi semua, sementara itu cakupan kerjanya semakin bersegi,termasuk fungsi,tantangan,dan permasalahannya. Untuk menganalisisnya dibutuhkan sosiologi pendidikan.