Minggu, 25 November 2012

PERILAKU MENYIMPANG DAN SIKAP ANTISOSIAL




PERILAKU MENYIMPANG  DAN SIKAP ANTISOSIAL


1      Pengertian :
Ada beberapa definisi  yang dikemukakan para pakar sosiologi mengenai perilaku menyimpang, antaralain sebagai berikut :
a.       Perilaku menyimpang adalah penyimpangan terhadap kaidah-kaidah dan nilai nilai dalam masyarakat. (Soerjono Soekanto)
b.      Perilaku menyimpang adalah pelanggaran terhadap norma masyarakat. (John J.Macionis)
c.       Perilaku menyimpang adalah perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan diluar batas toleransi (James W.Van der Zaden)
d.      Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang paling berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku yang menyimpang (Robert M.Z.Lawang)

Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikaitkan bahwa hakikat dari perilaku menyimpang adalah perilaku seseorang/sekelompok orang yang dianggap melanggar standar perilaku atau norma-norma yang berlaku dalam sebuah kelompok/masyarakat. Bisa pula dikatakan, perilaku menyimpang merupakan perilaku seseorang/kelompok yang dianggap tidak menyesuaikan diri dengan kehendak umum masyarakat/kelompok.

2.      Beberapa Hal Penting
Perilaku menyimpang merupakan gejala sosial yang kompleks. Berkenaan dengan itu, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita memiliki pengertian yang lebih utuh mengenai perilaku menyimpang, yaitu :
·         Seseorang dikatakan berperilaku menyimpang karena orang lain/masyarakat  mengatakannya seperti itu .
·         Standar perilaku masyarakat berubah-ubah dari waktu kewaktu. Karena itu perilaku yang termasuk dalam perilaku menyimpang, berbeda dari waktu kewaktu. Perilaku yang dianggap termasuk dalam perilaku menyimpang  pada masa lalu, belum tentu dianggap sebagai perilaku menyimpang pada masa kini atau masa yang akan datang.
·         Standar perilaku masyarakat yang satu bisa berbeda daangan masyarakat yang lain. Karena itu perilaku yang dianggap sebagai perilaku menyimpang oleh sebuah masyarakat, belum tentu dianggap sebagai perilaku menyimpang oleh masyarakat lain.
·         Perilaku menyimpang dapat berupa tindakan krminal. Contohnya yaitu perilaku mengambil harta milik orang lain tanpa izin (mencuri), membunuh orang, menganiaya, dan sebagainya.
·         Ada pelanggaran hukum yang bukan merupakan perilaku menyimpang, contohnya yaitu sebagian besar pengendara mobil pada umumnya mengendara  dijalan dengan kecepatan sedikit diatas kecepatan yang diperkenankan, namun demikian, hal itu tidak dianggap sebagai perilaku menyimpang.
·         Masyarakat ada kalanya sangat mengecam beberapa perilaku menyimpang tertentu, misalnya penyiksaan anak. Namun, bersikap biasa-biasa saja terhadap beberapa bentuk perilaku menyimpang lainnya. (missal: rambut dicat dengan warna yang mencolok)
·         Apa yang disebut perilaku menyimpang ada kalanya dibuat oleh penguasa untuk melindungi kepentingannya. Contoh: para pemilik perusahaan yang merugi, memiliki hak untuk menutup perusahaan mereka, walaupun tindakan itu mengakibatkan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan. Tindakan itu bukan merupakan suatu perilaku menyimpang. Sementara itu, jika para pekerja melakukan demonstrasi dan menyebabkan kerusakan kecil pada lingkungan perusahaan, mereka dianggap telah melakukan tindakan kriminal.

3.      Jenis-jenis perilaku menyimpang
Perilaku menyimpang dapat dibedakan berdasarkan beberapa kriteria atau sudut pandang, yaitu:
3.1.Berdasarkan Jenisnya
a.       Penyimpangan primer (primary deviation) merupakan perilaku menyimpang yang pertama kali dilakukan. Perilaku ini bersifat sementara, tidak dilakukan secara berulang. Sipelaku pada umumnya tetap diterima secara sosial. Ini terjadi karena masyarakat bisa memaklumi penyimpangan tersebut. Contoh : seseorang yang karena sesuatu hal tidak ikut serta dalam siskamling bersama.
b.      Penyimpangan sekunder (secondary deviation) adalah perilaku menyimpang yang merupakan pengulangan dari perilaku sebelumnya. Jadi perilaku menyimpang itu telah berulang-ulang dilakukan seseorang. Contoh: seseorang yang berulang-ulang mencuri, seseorang yang berulang kali menipu (penipu). Masyarakat umumnya tidak bisa menerima secara sosial mereka yang melakukan perilaku menyimpang sekunder.

3.2.Berdasarkan Efek/Dampaknya
a.       Perilaku menyimpang yang bukan merupakan kejahatan, adalah perilaku menyimpang yang tidak termasuk perbuatan pidana. Contoh: orang tua yang masih suka bermain kelereng, bermain petak umpet, dan lain lain
b.      Perilaku menyimpang yang merupakan kejahatan, adalah perilaku menyimpang yang diancam dengan sanksi pidana. Contoh: pencurian, penyiksaan.
c.       Kenakalan remaja, adalah perilaku menyimpang yang umumnya dilakukan oleh kaum remaja. Contoh: perkelahian antarpelajar, penggunaan obat-obatan terlarang.

4.      Fungsi Perilaku Menyimpang
Pada umumnya, perilaku menyimpang dinilai negative pleh masyarakat. Demikian pula,menurut pandangan umum perilaku itu dianggapmerugikan masyarakat.
Namun, ternyata menurut salah seorang pendiri sosiologi, Emiele Durkheim (1895-1982), perilaku menyimpang bukanlah perilaku yang semata mata tak normal dan melulu bersifat negative. Menurutnya, perilaku menyimpang memiliki kontribusi positif bagi kelangsungan masyarakat secara keseluruhan. Durkheim berpendapat, bahwa ada empat kontribusi penting dari perilaku menyimpang, yaitu sebagai berikut :
a.       Perilaku menyimpang memperkokoh nilai-nilai dan norma dalam masyarakat. Setiap konsep kebajikan merupakan lawan dari ketidakbaikan. Dengan demikian tidak akan ada kebaikan tanpa ada ketidakbaikan. Karena itu, perilaku menyimpang sangat diperlukan untuk semakin meneguhkan moralitas masyarakat.
b.      Tanggapan terhadap perilaku menyimpang akan memperjelas batas moral. Dengan menyatakan beberapa orang sebagai perilaku menyimpang,masyarakat memiliki kejelasan batas mengenai apa yang benar dan apa yang salah.
c.       Tanggapan terhadap perilaku menyimpang akan menumbuhkan kesatuan masyarakat. Masyarakat umumnya menindak perilaku menyimpang yang serius dengan tindakan tegas secara bersama-sama. Dengan demikian, masyarakat menegaskan kembali ikatan  moral yang mempersatukan mereka.
Contoh : tragedi WTC


Lihat Vidio :
video


d.      Perilaku menyimpang mendorong terjadinya perubahan sosial. Para pelaku perilaku menyimpang akan menekan batas moral masyarakat, memberikan alternative baru terhadap kondisi masyarakat dan mendorong berlangsungnya perubahan. Menurut Durkheim, perilaku menyimpang yang terjadi saat ini akan menjadi moralitas baru bagi masyarakat di masa depan.

BERBAGAI TEORI TENTANG PERILAKU MENYIMPANG
Mengapa terjadi perilaku menyimpang? Pertanyaan ini dapat dijelaskan secara sederhana maupun berdasarkan berbagai teori.
1.      Penjelasan sederhana
Perilaku menyimpang terjadi karena berlangsungnya proses sosialisasi yang tidak sempurna, dan adanya subkebudayaan penyimpangan sosial. Kedua sebab tersebut bisa dijelaskan secara singkat sebagai berikut :
a.       Berlangsungnya proses sosialisasi yang tidak sempurna. Artinya apa yang diajarkan dalam keluarga dan sekolah berbeda dengan apa yang dilihat dan dialami seseorang dalam kehidupan nyata di masyarakat. Misalnya, dalam keluarga anak diajarkan berbuat jujur, namun dalam masyarakat ternyata begitu banyak orang yang tidak berbuat jujur.
b.      Adanya subkebudayaan penyimpangan sosial. Artinya, seseorang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan budaya yang diwarnai oleh subbudaya penyimpangan sosial. Misalnya, seorang anak yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga/masyarakat preman, potensial melakukan tindakan premanisme.

2.      Penjelasan berdasarkan teori-teori tentang gejala perilaku menyimpang
Penjelasan itu antara lain dikemukakan oleh: teori biologis, teori labeling, teori sosialisasi, teori disorganisasi sosial, teori ketegangan, teori anomi, dan teori konflik. Berikut dikemukakan garis besar uraian mengenai teori-teori tersebut. (Gibbons & Jones, 1975; Marcionis, 1997; Calhoun, 1997; Schaefer & Lamm, 1998)

2.1.Teori Biologis
Teori ini pertama kali dikemukakan pada tahun 1876 oleh Caesare Lombroso (1835-1909). Menurutnya, para pelaku kejahatan umumnya memiliki cirri fisik: raut muka murung/sedih, rahang dan tulang pipi menonjol, daun telinga menonjol keluar, bulu bulu yang berlebihan, dan jari-jari yang luar biasa panjang, sehingga membuat mereka menyerupai nenek moyang manusia (kera). Namun, menurut Charles Buckman Goring, ada kelemahan dalam pendapat Lombroso, yaitu hanya didasarkan pada penelitian dengan sampel yang sangat terbatas.
Berbagai penelitian genetis dan sosiobiologi mutakhir terus mencoba mencari kaitan yang masuk akal antara kondisi biologis dan kejahatan. Namun, belum ada temuan yang rinci dan meyakinkan, yang membuktikan kaitan antara kondisi biologis dan kejahatan. Hanya, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor biologis bisa menyebabkan orang melakukan tindakan kejahatan.

2.2.Teori Labeling
Sebuah tindakan disebut perilaku menyimpang karena orang lain/masyarakat memaknai dan menamainya (labeling) sebagai perilaku menyimpang. Jika orang/masyarakat tidak menyebut sebuah tindakan sebagai perilaku menyimpang, maka perilaku menyimpang itu tidak ada. Penyebutan sebuah tindakan sebagai perilaku menyimpang sangat bergantung pada proses deteksi, definisi, dan tanggapan seseorang terhadap sebuah tindakan.
Sebagai contoh, sekelompok masyarakat di sebuah desa di Filipina, melakukan tindakan sabung ayam. Bagi kita, mungkin tindakan itu dianggap sebagai bentuk perilaku menyimpang. Namun, bagi sebagian penduduk Filipina, tindakan itu ternyata merupakan ritual penting untuk menghayati kehidupan yang jujur. Jadi, proses deteksi,definisi, dan tanggapan seseorang terhadap tindakan sabung ayam akan sangat menentukan penamaan (labeling) tindakan itu, apakah tindakan itu akan disebut perilaku menyimpang ataukah kgiatan ritual.
Lebih lanjut, menurut Harold Garfinkel ada kalanya masyarakat secara formal melakukan stigmatisasi melalui tata cara penghinaan (degradation ceremony). Stigmatisasi ini menjadikan orang sakit secara mental (mental illness). Akibat selanjutnya, mereka terus menerus melakukan perilaku menyimpang.

2.3.Teori Sosialisasi
Menurut Mark S. Gaylord dan John F.Galliher, orang yang memiliki perilaku menyimpang cenderung memiliki ikatan sosial dengan orang lain yang memiliki perilaku menyimpang, dimana orang tersebut mengokohkan norma norma dan nilai nilai yang menyimpang. Prinsipnya, setiap kelompok sosial akan mewariskan nilai nilai dan norma norma kelompoknya kepada anggota-anggota baru.
Kaum muda pada umumnya sangat terbuka terhadap norma, perilaku, dan nilai-nilai yang berasal dari subkultur berbeda, termasuk subkultur perilaku menyimpang. Karena itu, menurut Ronald R Akers perilaku teman-teman dekat merupakan sarana yang paling baik untuk memprediksi apakah perilaku seorang anak muda sesuai dengan norma yang berlaku ataukah perilaku menyimpang.

2.4.Teori Ketegangan
Teori ketegangan dikemukakan oleh Robert K.Merton. ia menyatakan bahwa perilaku menyimpang lahir dari kondisi sosial tertentu. Tepatnya, munculnya perilaku menyimpang ditentukan oleh seberapa baik sebuah masyarakat mampu menciptakan keselarasan antara aspirasi warga masyarakat (missal, keinginan untuk hidup sukses) dengan cara pencapaian yang dilegalkan masyarakat (missal, pekerjaan). Jika tidak ada keselarasan antara aspirasi-aspirasi warga masyarakat dengan cara cara legal yang ada, maka akan lahir perilaku menyimpang.
Jadi, perilaku menyimpang merupakan akibat dari adanya ketegangan antara aspirasi apa yang dianggap bernilai oleh warga masyarakat dan cara pencapaian aspirasi yang dianggap sah oleh masyarakat.

2.5.Teori Disorganisasi Sosial
Konsep tentang disorganisasi sosial didasarkan pada karya William I. Thomas dan Florian Znaniecki. Istilah disorganisasi sosial mengacu pada penjelasan mengenai perilaku menyimpang dan kondisi masyarakat yang menyebabkannya.
Menurut teori ini perilaku menyimpang merupakan produk dari perkembangan masyarakat yang tak seimbang, didalamnya terjadi perubahan dan konflik yang berdampak pada perilaku masyarakat.
Teori ini menekankan bahwa masyarakat terorganisasi bila anggota masyarakat membangun kesepakatan mengenai nilai dan norma fundamental sebagai dasar indakan bersama. Organisasi sosial atau tata sosial terwujud ketika ada ikatan yang kuat diantara individu individu dan lembaga lembaga dalam masyarakat. Ikatan ini meliputi kesepakatan luas mengenai tujuan yang dihargai dan diperjuangkan. Dengan demikian, disorganisasi sosial adalah kekacauan sosial.

2.6. Teori Anomi
Emiele Durkheim, sosiolog dari perancis, memperkenalkan konsep tentang anomi dalam karyanya yang terkenal The Division of Labour in Society. Buku tersebut dipublikasikan pada tahun 1893. Ia menggunakan konsep anomi untuk mendeskripsikan kondisi tanpa norma yang terjadi dalam masyarakat. Anomi berarti runtuhnya mengenai bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap yang lain. Masyarakat tidak tahu lagi apa yang bisa diharapkan dari orang lain. Kondisi itu, menurut Durkheim, akan melahirkan perilaku menyimpang.
Anomi mengacu pada hancurnya norma norma sosial, ketika norma tidak lagi mengontrol tindakan anggota masyarakat. Individu individu tidak dapat menemukan kedudukan dan peran mereka dalam masyarakat. Mereka juga tak dapat menemukan aturan-aturan jelas yang membantu mengarahkan mereka. Kondisi yang berubah itu mengarah pada ketidakpuasan, konflik, dan perilaku menyimpang.
Menurut pengamatan Durkheim, kekacauan sosial (misalnya depresi ekonomi) akan mengakibatkan anomi dan naiknya tingkat kejahatan, bunuh diri, dan perilaku menyimpang lainnya. Perubahan yang mendadak (entah itu dalam masa kemakmuran ataukah masa depresi) akan menyebabkan terjadinya anomi.

2.7.Teori Konflik
Menurut teori ini, perilaku menyimpang merupakan akibat dari ketidaksamaan dalam masyarakat. Teori ini menekankan bahwa seseorang atau perbuatan yang disebut perilaku menyimpang tergantung pada kekuasaan relative dari kelompok masyarakat.
Alexander Liazos (1972) mencatat bahwa konsep umum mengenai perilaku menyimpang misalnya orang gila, pelacur, gelandangan, menunjuk pada masyarakat yang tidak memiliki kekuasaan. Mereka diberi stigma sebagai pelaku perilaku menyimpang.


LEMBAGA PENGENDALIAN SOSIAL
1.      Pengertian dan Fungsi Lembaga Pengendalian Sosial
Lembaga pengendalian sosial sering disebut juga lembaga control sosial. Ada berbagai definisi yang dikemukakan oleh para pakar mengenai apa itu lembaga pengendalian sosial. Beberapa definisi tersebut, antara lain :
a)      Lembaga pengendalian sosial adalah segala proses, baik yang direncanakan maupun tidak, yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga-warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang berlaku. (Joseph S. Roucek)
b)      Lembaga pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggota-anggotanya yang membangkang. (Peter L. Berger)
c)      Lembaga pengendalian sosial adalah berbagai sarana untuk mendorong warga masyarakat agar bersedia mematuhi norma-norma yang berlaku. (John J. Macionis)
Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat dikatakan bahwa hakikat dari lembaga pengendalian sosial adalah berbagai upaya yang dilakukan kelompok atau masyarakat untuk membuat anggota-anggotanya bersedia mematuhi norma yang berlaku dalam kelompok atau masyarakat yang bersangkutan.

2.      Cara, Sifat, dan Subjek dalam Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial bisa dipahami dari berbagai dimensi, antara lain, berdasarkan sifatnya (prefentif dan represif), cara pelaksanaannya (persuasive dan koersif), dan jumlah pelaku serta sasaran yang dituju (perorangan dan kelompok).

2.1. Cara pengendalian sosial
Dilihat dari dimensi cara pelaksanaannya, pengendalian sosial bisa dibedakan atas pengendalian sosial yang dilaksanakan secara persuasive dan koersif.
a)      Cara Persuasif
Cara persuasive merupakan upaya pengendalian sosial yang dilakukan dengan menekankan pada tindakan yang sifatnya mengajak atau membimbing warga masyarakat agar bersedia bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Cara persuasive cenderung menekankan pada upaya penyadaran masyarakat.
b)      Cara koersif
Cara koersif merupakan upaya pengendalian sosial yang dilakukan dengan menekankan pada tindakan yang sifatnya memaksa warga masyarakat agar bersedia bertindak sesuai dengan norma yang berlaku. Cara koersif cenderung menekankan pada berbagai upaya pemaksaan masyarakat. Upaya ini semestinya digunakan seminimal mungkin, yaitu bila upaya persuasive tidak memberikan hasil.

2.2.Sifat Pengendalian Sosial
berdasarkan sifatnya, pengendalian sosial terdiri dari upaya preventif dan upaya represif. Berikut keterangan lebih jelasnya :
a)      Upaya Preventif
Yaitu berbagai upaya pengendalian sosial yang dilakukan untuk mencegah terjadinya berbagai gangguan terhadap kedamaian dan ketertiban masyarakat. Upaya upaya preventif dilakukan misalnya melalui proses sosialisasi. Contoh : iklan layanan masyarakat yang berisi ajakan untuk menciptakan pemilu dengan damai
b)      Upaya Represif
Yaitu berbagai upaya pengendalian sosial yang dilakukan untuk mengembalikan kedamaian dan ketertiban masyarakat yang pernah terganggu. Upaya upaya represif dilakukan dalam bentuk pemberian sanksi kepada warga masyarakat yang menyimpang atau melanggar norma yang berlaku. Contoh : penjatuhan pidana penjara kepada pelaku korupsi.

2.3.Pelaku dan Sasaran Pengendalian Sosial
Bila dilihat berdasarkan jumlah pelaku dan sasaran yang dituju, upaya pengendalian sosial terdiri atas beberapa hal berikut ini :
a)      Pengendalian sosial yang dilakukan oleh individu terhadap individu lainnya.
b)      Pengendalian sosial yang dilakukan oleh individu terhadap kelompok.
c)      Pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok terhadap individu
d)     Pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok terhadap kelompok lain.

3.      Jenis-Jenis Lembaga Pengendalian Sosial
Ada berbagai jenis lembaga pengendalian sosial yang berfungsi untuk mencegah dan mengatasi perilaku menyimpang. Lembaga pengendalian sosial tersebut meliputi: gossip, teguran, hukuman, pendidikan, dan agama. Berikut eterangan lebih jelas:
3.1.Gosip
Gossip sering juga disebut dengan desas desus atau kabar burung. Gossip merupakan berita yang menyebar belum tentu/tanpa berlandaskan pada kenyataan atau fakta. Dengan demikian gossip bisa saja benar, namun bisa pula salah. Jadi berita dalam gossip masih diragukan kebenarannya. Sebab sering kali berita dalam gossip tidak jelas sumbernya.

3.2.Teguran
Teguran adalah peringatan yang dilakukan oleh satu pihak kepada pihak lain. Teguran itu bisa dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, seseorang kepada kelompok lain, satu kelompok kepada seseorang, atau dari kelompok kepada kelompok lain. Teguran bisa dilakukan dengan cara lisan dan atau secara tertulis.

sumber : Sosiologi untuk SMA kelas X, oleh Saptono, Bambang Suteng S. penerbit: Phibeta, 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar